Cinta Yang Sesungguhnya

Oktober 06, 2018

Inilah sebuah bukti tentang cinta yang sebenar-benarnya cinta yang dicontohkan Allah Ta'ala melalui kehidupan Rosul-Nya. ...  Pagi itu, walaupun langit mulai menguning tetapi burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya. Pagi itu, Rasulullah dengan suara lemah memberikan khutbah terakhirnya.

 "Wahai umat ku ... Kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya.
Maka taati dan bertaqwalah kepada-Nya. Kuwasiatkan dua perkara pada kalian yakni Al-Qur'an dan Sunahku. Barang siapa mencintai sunahku, berarti ia mencintaiku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk syurga bersama dengan ku"

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rosul yang tenang dan menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisanya. Usman menghela nafas panjang. Dan Ali menundukan kepalanya dalam-dalam.

"Isyarat itu telah datang, sudah tiba saatnya Rosulullah akan meninggalkan kita semua"

Keluh semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu hampir selesai menyelesaikan tugasnya di dunia ... Tanda-tanda itu semakin kuat tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rosululloh yang kondisinya semakin lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau saja mampu seluruh sahabat yang hadir disana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari makin tinggi, tetapi pintu rumah Rosululloh masih tertutup, sedang didalamnya Rosululloh sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelapah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar orang berseru mengucapkan salam.

 "Bolehkah saya masuk?" tanyanya.

 Tapi Fatimah tidak mengiznkannya masuk.

"Maaf, Ayahku sedang demam"

Kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu, kemudian ia kembali menemani Ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah.

"Siapakah itu wahai anakku?"

"Tak tahulah Ayahku, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya" tutur Fatimah lembut.

Lalu Rosululloh menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah seluruh sudut wajah anaknya itu hendak dikenangnya.

"Ketauhilah nak, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia ... "DIALAH MALAIKAT MAUT!!" kata Rosululloh.

Fatimah menahan ledakan tangisnya, Malaikat maut telah datang menghampiri, Rosululloh pun menanyakan kenapa jibril tidak menyertainya. Kemudian dipanggil jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit menyambut Ruh kekasih Alloh dan penghulu dunia ini.

"Jibril jelaskan apa hakku nanti dihadapan Alloh?" tanya Rosululloh dengan suara amat lemah.

"Pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu, semua syurga telah terbuka lebar  menanti kedatanganmu" kata jibril.

Tapi semua penjelasan jibril itu tidak membuat Rosul lega, matanya masih penuh kecemasan dan tanda tanya.

"Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" tanya jibril lagi.

"Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" tanya Rosul

Jangan khawatir wahai Rosul Alloh, aku pernah mendengar Alloh berfirman kepadaku: "Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya" kata jibril meyakinkan.

Detik-detik wafatnya Rosululloh semakin dekat, saatnya izroil melakukan tugasnya. Perlahan-lahan Ruh Rosululloh ditarik, nampak seluruh tubuh Rosululloh bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

"Jibril betapa sakit sakarotul maut ini ..." perlahan desiran Rosululloh mengaduh.

Fatimah hanya mampu memejamkan matanya, sementara Ali yang ada disampingnya menunduk semakin dalam, dan Jibril pun memalingkan wajahnya.

"Jijik kah kau melihatku, hingga kau memalingkan wajahmu wahai =Jibril?"  tanya Rosul pada malaikat pengantar wahyu itu.

"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Alloh direnggut ajal" kata jibril.

Sesaat kemudian terdengar suara Rosululloh memekik karena sakit yang tak tertahankan lagi.

"Ya Alloh dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku. Jangan pada umatku" 

Badan Rosululloh mulai dingin, kaki dan badanya sudah tidak bergerak lagi, bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali pun segera mendekatkan telinganya.

"Peliharalah sholat dan peliharalah orang-orang lemah diantaramu"

Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan dan sahabat mulai berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya dan Ali kembali endekatkan telinganya, ke bibir Rosululloh yang mulai kebiruan.

"Ummatii, Ummatii, Ummatii"

Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinar kemuliaan itu.

Mampukah kita mencintai sepertinya. 

"Allohumma solli ala muhammad wabarik wasallim alaihi"

Betapa cintanya rosululloh itu, kepada kita semua

You Might Also Like

0 komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images